Ketika Tuhan Menjawab...
Semua berawal dari sebuah mimpi seorang Aku
yang hampir tak pernah mungkin bagiku untuk bersekolah lebih tinggi dari
Sekolah Menengah Atas atau biasa disingkat SMA. Walau pun nilai akademis dan
prestasiku cukup mendukung untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Namun
satu hal yang membuat Aku tersebut tidak berani berharap lebih jauh yakni biaya
kuliah yang nominalnya bukan puluhan atau ratusan ribu lagi namun sudah
mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. Sontaklah impianku hanya
tergeletak dalam deretan angan belaka.
Kehidupan sekolahku tetap harus berjalan
walau dalam hati masih terdengar lirih impian untuk meneruskan ke perguruan
tinggi. Hampir setiap hari pada jam pelajaran, sahabat - sahabatku keluar masuk
kelas untuk keperluan yang sama yakni pergi ke kantor Bimbingan Konseling (BK)
untuk menyerahkan persyaratan tes masuk atau hanya sekedar menggali informasi
mengenai PTN/PTS tertentu. Aku ingat betul
itu sekitar tiga bulan menjelang UNAS SMA sepertinya sekolah utamanya anak
– anak kelas tiga sedang gencar –
gencarnya daftar kuliah, sibuk kesana kemari mulai dari legalisir rapor, mengurus
surat Kelakuan Berperilaku Baik (SKBB), tes buta warna dan lain – lain. Daftar
lebih dari satu perguruan tinggi, daftar lewat jalur macam – macam ikut
intensif bimbel yah masih banyak
lagi. Sedangkan aku masih bergejolak dalam hati untuk memberanikan diri
mengajukan persyaratan saja tidak berani. Sahabatku sering bertanya kepadaku, “
Kamu daftar mana?”. Kalimat itu mudah sekali dijawab bagi mereka yang memiliki
tujuan jelas, dana ada, mobilitas dan link
terfasilitasi. Dan pertanyaan itu aku jawab dengan sederhana yakni “ Aku gag daftar mana – mana” dengan senyum nyengir khas dariku. Aku pasrah dan
ikhlas kepada Tuhan tentang garis yang baik kepadaku dan tetap menjalani
sekolah, fokus dengan ujian akhir nanti.
Sebulan
menjelang Ujian Akhir Nasional ada pameran expo mengenai beberapa PTS/PTN tertentu yang diadakan
oleh kakak alumni SMA dulu. Disana kakak alumni memberikan informasi pada
masing – masing stand. Dari beberapa stand yang ada, aku tertarik dengan yang
menawarkan beasiswa ada satu PTS yang akhirnya aku memberanikan diri untuk
mendaftar dikarenakan oleh kakak satu ektrakurikuler masuk beasiswa penuh
disana. Mulailah aku mengikuti rutinitas pergi ke BK untuk mengumpulkan berkas
– berkas yang ada. Namun sayangnya, pengumpulan berkas sudah terlambat karena
pihak sekolah telh mengirimkan berkasnya seminggu yang lalu. Mungkin sial
bagiku tapi yang namanya maju, pantang untuk mundur, kawan!.
Aku berangkat sendiri ke PTS tersebut yang letaknya tidak
seberapa jauh dari kampungku, yah
kira – kira Mojokerto-Surabaya bisa ditempuh
dalam dua jam dengan bus ditemani
dengan sang
Kakak yang notabene pernah kos
sekitar daerah PTS tersebut. Setelah menempuh
perjalanan, akhirnya kami sampailah di kampus yang gedungnya bertingkat –
tingkat, mobil pada berjejer di
halaman parkir ibarat dalam hati nih nak berkata,
“alamak! elit sekali nantinya teman –
temanku yang ku punya”. Bergegaslah Aku bersama kakak serta kemenakanku ke tempat
registrasi PTS itu lalu Aku menyerahkan berkas lengkap dengan pas foto dan
segala macamlah. Dalam hatiku sangat senang sekali karena Aku pikir ini adalah
pencerahan bagiku yang ingin meneruskan sekolah. Mataku berbinar- binar tidak
bisa membayangkan tentang kuliah dan tidak sabar menunggu pengumuman dari PTS
tersebut yang akan lolos ke tahap interview
beasiswa penuh. Sudah seminggu yang lalu sejak Aku menyerahkan berkas
administrasi namun belum juga terdengar seruak pengumuman. Hampir saja Aku
melupakan kalau Aku pernah daftar beasiswa penuh karena saking lamanya pengumuman keluar. Dan dua hari kemudian, pengumuman
pun keluar, langsung Aku ke warnet tetanggga untuk melihat nama siapa saja yang
lolos ke tahap interview. Perlahan Aku buka alamat webnya sambil mengucapkan
basmalah dan denyut jantung yang dari tadi dag
dig dug. Maklum, ini pertama kalinya Aku daftar kuliah. Aku periksa satu
per satu deretan nama – nama tersebut berharap ada namaku disana. Ternyata,
memang ada namaku di pengumuman itu namun dengan keterangan TIDAK LOLOS ke
tahap selanjutnya. Tep, saat itu
pulalah Aku merasakan sakit hati yang teramat sangat. Pupus sudah semua harapan, mimpiku hilang semua hilang dalam
sekejap dan masih terekam seumur hidupku kata TIDAK LOLOS itu. Semangat untuk
belajar di sekolah pun mulai turun namun Aku pikir Aku tidak boleh terlarut
terlalu lama dalam masalah ini. Kembali ke rutinitas semula yakni pergi ke
sekolah, belajar, dan fokus untuk UAN nanti.
Count down untuk ujian akhir terus berjalan, waktu ujian
akhir semakin dekat. Namun Aku terus berdoa kepada Tuhan agar Aku bisa
meneruskan sekolah ke perguruan tinggi tanpa biaya sedikit pun, dimana pun,
jurusan apa pun itu insya Allah, Aku
akan giat belajar. Doa yang bisa dibilang gag
mungkin terjadi secara logika. Namun sekali lagi Tuhan memang Maha Adil dan
Maha Mengetahui, siapa yang menyangka kalau Aku mendapatkan informasi dari pak
Yusuf selaku guru bimbingan yang menjadi pahlawan bagi anak- anak kelas tiga
datang ke kelasku membawa berita gembira bagiku dan teman – teman lain yang
juga mencari beasiswa yakni program beasiswa Bidik Misi (BM) di Universitas
Airlangga (UNAIR). Dalam penjelasan beliau, program beasiswa ini baru pertama
kali diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi yang biasa
disingkat menjadi Ditjen Dikti dan memang untuk siswa SMA sederajat yang tidak
mampu namun keinginan untuk sekolah itu besar. Dan beliau juga mengatakan,”siapa
yang dapat beasiswa ini enak, tinggal mikir
kuliah tok tanpa mikirin
uang SP3 dan lain- lain, selain itu dapat uang saku per bulannya, tapi eling sing temenan kuliah. Namun kalian
harus lolos tes masuknya terlebih dahulu untuk mendapat beasiswa ini dan jalur
pendafaran yang dibuka sebelum UAN adalah tes PMDK”. Dalam hati, Aku hanya bisa
mengucap syukur kepada Tuhan, akhirnya angin masih berhembus kepadaku. Tanpa
pikir panjang lagi mungkin ini adalah jawaban atas doaku selama ini dan
langsung Aku menanyakan kepada pak Yusuf berkas apa saja yang perlu Aku siapkan
untuk mengikuti tes ujian masuk dan program beasiswanya sendiri. Setelah berkas
semua anak lengkap barulah pak Yusuf menyerahkan langsung ke UNAIR dan kami
disuruh pak Yusuf untuk menunggu siapa saja yang beruntung untuk mengikuti
karantina tes ujian masuk UNAIR untuk calon penerima beasiswa yang dikenal
dengan BMU.
Ujian
akhir sudah selesai tinggal ujian akhir sekolah yang hampir selesai dan
berikutnya adalah ujian akhir praktikum. Di sela ujian akhir sekolah,
pengumuman penerima BMU keluar langsung Aku berlari menuju kantor pak Yusuf dan
menanyakan siapa penerima beasiswa yang dikarantina. Belum hilang nafasku yang
terengah – engah karena berlari dari ruang kelas ke kantor pak Yusuf tadi,
sekarang jantungku ingin copot sewaktu
mendengar namaku dipanggil beliau dan
Renda temanku, siswa kelas tiga IPS. Pak Yusuf menyerahkan amplop berisi undangan
untukku yang isinya dikarantina selama dua hari sebelum tes ujian masuk. Tak
lama kemudian terdengar suara bel berbunyi menandakan Aku harus bergegas ke
kelas untuk melaksanakan ujian akhir sekolah sambil tak henti – hentinya Aku
bersyukur kepada Tuhan atas segala kuasaNya. Dan ujian pun selesai. Aku tak
sabar sampi di rumah untuk menyampaikan surat ini untuk ibu dan bapak di rumah.
Mereka hampir tak menyangka sama sekali atas apa yang terjadi bahkan mereka
sempat pesimis kalau toh nantinya
akan bayar – bayar lagi. Akan tetapi, Aku meyakinkan mereka bahwa Aku hanya
ikut program beasiswa kalau masuk ya Alhamdulillah kalau tidak ya
Alhamdulillah, tidak ada salahnya juga Aku mengikuti ini.
Perjuangan
belum berakhir kawan. Mungkin itu kata yang cocok untuk mengkondisikan
keadaamku saat itu. Aku harus bolak – balik ruang guru untuk menemukan jadwal
susulan yang pas untuk ujian akhir praktikum Bahasa Indonesia dan Biologi
karena Aku harus izin dua hari untuk karantina. Dan akhirnya Aku dapat jadwal
ujian Bahasa Indonesia bersamaan dengan ujian Agama. Alhasil, menumpuklah itu
ujian praktikum karena untuk Bahasa Indonesia harus menyelesaikan resensi satu
buku dikumpulkan dalam bentuk hard copy dan
mengarang minimal lima halaman folio dikumpulkan pada hari itu juga dan tidak
lebih dari jam pulang sekolah. Selain itu, Aku juga harus ujian Agama pada hari
yang sama. Alhamdulillah selesai semuanya dengan cukup baik. Dan berangkat ke
Surabaya untuk dikarantina sekaligus ujian tes masuk jalur PMDK Prestasi. Ujian
terdiri dari Tes TPA dan IPA khusus yang jurusan IPA, IPS dan IPC juga berlaku
demikian serta waktu pengerjaan 100menit untuk 100 soal. Aku menemukan banyak
teman baru dari segala daerah dengan tujuan yang sama yakni ingin meneruskan
sekolah. Ada kata motivasi yang kusuka dari kakak pembimbingku waktu itu adalah
jika kalian selesai melaksanakan ujian, dimana yang lain sibuk untuk menghitung
salah dan benar dalam menjawab soal maka kita sebaiknya berdoa kepada Tuhan
seperti ini doanya, ”Ya Rabb, ijinkanlah Aku kembali ke kampus UNAIR ini dan
apa pun hasilnya jangan sampai membuatku menangis ya Rabb”. Tak lama kemudian
Tuhan pun menjawabnya dengan jalan yang tidak terduga sekarang Aku bisa
berkuliah di UNAIR sebagai penerima beasiswa BM 2010 dari awal mendaftar tidak
mengeluarkan biaya apa pun dan Alhamdulillah Aku keterima di jurusan yang Aku
senangi yaitu Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.
Kawanku, janganlah pernah meragukan kuasaNya. Mintalah
kepadaNya dengan penuh keyakinan bahwa suatu saat akan terkabul. Dan jangan
pernah meremehkan kekuatan mimpimu karena itulah titik awal dimana kalian
menentukan masa depan kalian. Dan iringi dengan aksi – aksi kecil karena itu
akan membuatnya menjadi aksi yang besar.
Ini sedikit cerita dariku semoga dapat menginspirasi kalian
para pembaca.. Semangat!!! minggu, 29 Juli 2012 (okky)
ini tah cerpen yang kamu maksud hahaha
BalasHapusoohh aku kira cepen fiksi ternyata mala kisah hidupmu nyampe farmasi tohh,,
yah kalo boleh coment kalimatmu terlalu baku mbak coba deh kalo emang pengen ceritamu dibaca agak dbkin sekomunikatif mungkin ya itu sih dari orang awam kayak aku hehehe tp nice job ya buat perjuangannya ^^
oalah itu bukan cerpennya.. itu artikel buat buku motivasi buat anak sekolah mas. sipp komentar akan diperbaiki di cerpen selanjutnya.tapi masih belum direlease >> segera dipost deh..
BalasHapusjah kirain udah hahahaha bise ta cari-cari koq ga ada yang berbau cerpen cman ini hahaha :P
BalasHapuseh sori ya beberapa hari ini pulsa ku abis jadi jangan sms aku dlu takute gbsa bales,,
lanjutkan ae wez btw tampilan blogmu kok jadi aneh ya ap ini lepiku yang aneh hehehe :P
lagi bad moody stadium lanjut iki... -___-
BalasHapus